MAKNA KEHIDUPAN




        "Hai." Aku menyapa sebuah bayangan yang kini berada tepat di bawa telapak kakiku. Dia adalah aku versi samar dari diriku. Hanya bergerak mengikuti tanpa kenal lelah dan tak berkeluh kesah sekalipun aku berada dalam situasi terburuk. Aku kembali menengadahkan kepala keatas langit. Kemudian kembali lagi menatap jalan dan sekitar. Aku masih berada disini. Aku berhasil mencapai di titik ini. 

Suasana hening merayap sekitar. Pagi hari buta aku menyempatkan diri menjejalkan kaki ini mengelilingi sekitar. Melihat suasana yang tak kunjung berubah sejak 1 bulan yang lalu. Melakukan aktivitas yang terus-menerus membuatku terasa hampa. Hampa tak dapat menemukan banyak hal menyenangkan seperti biasa. Mungkin hanya untuk sekedar menyejukkan diri atau melepas penat dari segala tugas yang kudapatkan. 

Aku kembali menyusuri jalanan dengan siraman mentari yang kini semakin menghangat.Banyak pekerja yang memulai pekerjaannya. Aku tersenyum sembari menendang batu kecil. Betapa pahitnya jika aku juga seperti itu. Memikul beban untuk beberapa orang yang berlalu lalang dalam kehidupannya. Begitupun dengan aku. Menahan rasa yang tak mungkin bisa digambarkan di situasi yang memang tak bisa didefinisikan. Terkurung dalam hamparan luas dengan gedung menjulang, dan juga terkurung oleh diri yang tertutup karena banyak alasan di dalamnya.

Aku kembali menengadahkan kepala ke langit. Menahan bulir-bulir yang kini tertahan di kelopak mata. Seiring waktu berlalu, tak sadar aku sudah kembali menginjakkan kaki di tempatku berada. Sejenak aku menarik napas kemudian menaiki tangga sambil melihat sekeliling lingkungan yang sama lagi dan lagi. Aku menghela nafas kasar.

Sekelebat ingatan menari di kepalaku. Masa itu. Aku ingin kembali ke masa itu. Masa dimana tidak ada yang terjadi bumi. Masa dimana bumi aman dan tentram tanpa ada rasa takut antara satu dengan yang lain. Masa dimana, kita bisa saling merangkul, bercengkrama dan saling menyemangati bahwa kita tidak sendiri dan hidup adalah fatamorgana. Setidaknya hidup bukanlah sesuatu yang kita harus hindari. Namun, hidup adalah sesuatu yang harus aku jalani.






Aku.

Aku adalah versi terbaik dari diriku.

-----------

Sebuah sinar menyelinap di sela-sela mataku. Aku mengerang pelan disusul menguap lebar. Segera kubuka jendela dan tirai.  Suara kicauan burung menghiasi pagi cerah dihiasi motif awan yang mengunggah mata bagi siapapun yang melihatnya. Segera kurapihkan ranjang dan tumpukan buku yang berserakan diatas meja. Kemudian dilanjut dengan mengerjakan aktivitas seperti biasanya. Sesuai dengan hal-hal yang pernah dijelaskan sebelumnya. Hidup bukanlah sesuatu yang kita harus hindari. 

Kenyataannya, beberapa hal mengenai kehidupan kerap kali aku hindari, entah karna aku tak suka atau aku merasa tak mampu lagi menjalaninya. Hanya saja, itu melelahkan bagiku. Terlalu melelahkan jika harus terus bertahan. Terlalu melelahkan jika harus bersabar. Kadang kala aku merasa hidup ini hanya terlalu kejam. Kejam bagi siapa saja yang tak memahami aturannya. Memang bumi berevolusi. Tak selamanya ia stagnan. Sama seperti kehidupan ini. Hanya saja rasanya berbeda. Mereka memaksa agar kita memahami aturan. Tapi aturan tidak bisa memahami perasaan kita. Apa hidup hanya berkaitan tentang logika? Apa gunanya perasaan diciptakan jika hanya logika yang terus-menerus di kedepankan?

Aku berhenti sejenak. Menarik napas kemudian menatap kemacetan yang dulu notabenenya mungkin kita pergi kesana kemari, berpergian, jalan-jalan atau yang lain sebagainya. Namun kini keadaan berbanding terbalik. Hari-hari dulu tak lagi kembali normal. Dari sini, kita perlu memahami bahwa makna suatu kehidupan bukanlah hanya melihat, duduk berpangku tangan dan mendengarkan. Bukan juga berangan-angan. Bukan hanya itu. Berangan-angan boleh tapi mari kita wujudkan. Oleh karena itu, di masa saat ini ketika semua orang dilanda kebingungan karena pandemi terjadi, mari gunakan waktu kita untuk mengenal diri kita kembali. Tak bisa kemana-mana bukan suatu alasan buat kita untuk ga bikin sesuatu. Bahkan, dengan beradanya kita dirumah mungkin saja kita sedang diberi kesempatan lebih untuk lebih kreatif lagi. Mungkin dibenak kita kerap kali terlintas merasa “Takut salah”, “Takut gagal”, “Takut nanti orang ngomong apa” dan segala macam bentuk ketakutan lainnya. Andai kalian terus merasa takut tanpa berkeinginan memulai, maka kita akan terus tetap berada di tempat dengan perubahan zaman yang terus membawa kita. 

Namun, ketika kita mencoba berani mengambil langkah pertama dalam hidup kita kita perlu percaya, kita udah buka pintu pertama untuk meraih mimpi kita. Entah pintu apa yang kita buka, kita tidak akan pernah tau. Banyak kejutan yang menunggu di depan sana.




Kehidupan.

Tak selamanya hidup ini stagnan.

Semua berevolusi baik bumi atau diri.

Lelah itu pasti.

Selama kita terus berusaha dan mencoba.

Mungkin, suatu saat nanti akan ada masa dimana kamu berada di titik,

“Aku pernah berada di posisi itu dan aku berhasil mengalahkannya hingga detik ini.”

------------------



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE SADEST PEOPLE HAVE THE BRIGHTEST SMILE

SENDIRI