SENDIRI
Tiba-tiba langkahku terhenti melihat kanal-kanal kecil mengalir di tepi pantai.
Penasaran akannya, kemudian tanpa berfikir dua kali pun segera kutelusuri alur elokannya.
Seketika, Tubuhku membeku, pandangan mataku terjatuh pada sosok didepan tanpa sedetikpun berkedip.
Kulihat, seorang berumuran di bawahku membangun sebuah rumah dari gundukan tanah, pasir disertai serabut akar kelapa. Dihiasai berbagai macam tanaman, sungguh persis dengan apa yang dibicarakan.
Aku menghampiri "Kenapa begini?"
Dia takut kemudian kabur kebelakang, kuekorinya hingga pandangan kami saling beradu.
"Mengapa, sendiri?"
Ia berkaca-kaca seolah ucapanku langsung menusuknya.
Kutanya sekali lagi. Nihil. Ia enggan menjawab.
Kuhampiri tubuh tersebut lalu memeluknya. Ia terisak hebat. Aku ikut menangis dibuatnya.
Sejenak ia menatapku dalam.
"Sendiri adalah kondisi ternyaman agar kita tak membebani orang lain."
Aku terdiam.
"Karena?"
"Karena, dalam kehidupan kita ditakdirkan dalam banyak pilihan. Maka, dari sekian banyak pilihan yang ada, sendiri adalah pilihan tepat ketika kita merasa perlu merehatkan diri dari lalu-lalang problema. Seperti yang diketahui, tak ada yang lebih tabah dari diri kita. Tak ada yang lebih bijak dalam menyikapi pribadi kita sendiri."
Sejenak ia berhenti bicara.
Aku membulatkan mata bersiap untuk menantikan ucapannya.
"Hidup sendiri untuk saat ini , membuatku cukup mendapat banyak pelajaran. Maka adanya hal hal yang berada di sekeliling kita adalah sebuah nasihat dan pelajaran. Salah satunya, pemahaman.
"Tiadalah sesuatu yang mampu memahamimu dan mencintai mu kecuali dirimu sendiri dan penciptamu"
Aku terdiam. Tak mampu berkata.
Komentar
Posting Komentar